Senin, 24 Mei 2010

MEMANDANG PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI YANG GAUL

MEMANDANG PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI YANG GAUL
OLEH:
ARDIAN BAKHTIAR RIVAI
MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

Makalah disampaikan Pada Seminar Jurusan PPKn Undiksha
Tanggal 25 Mei 2010
Di gedung Auditorium Universitas Pendidikan ganesha Singaraja


Hasil penelitian yang dilakukan oleh Joko Pitoyo dkk, Tim Peneliti pada Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM Tahun 2006 menemukan bahwa 24% PEMUDA INDONESIA TIDAK MENGETAHUI PANCASILA .

A. Latar Belakang
Data penelitian di atas setidaknya menjadi sebuah realita pada masyarakat kita betapa Pancasila sebagai Ideologi bangsa Indonesia yang secara perlahan namun pasti mulai kehilangan makna pada kehidupan masyarakat. Sebuah tamparan keras yang menjadi inspirasi penulis untuk menyusun makalah ini, menjadi entitas gagasan pemikiran generasi muda bagi eksistensi Pancasila di tengah derasnya arus globalisasi yang mengguncang bumi pertiwi ini. Jumlah 24% bagi sebagian orang mungkin angka yang tidak terlalu besar untuk mengukur sejauh mana nasib masa depan bangsa ini kelak. Namun, dalam konteks ini penulis ingin mengajak para pembaca sekalian untuk berinterospeksi tentang dampak yang ditimbulkan apabila 24% pemuda itu kelak menjalankan roda pemerintahan di Republik ini suatu saat nanti. Bukan suatu hal yang mustahil, mungkin saja suatu saat nanti akan lahir Gayus Tambunan “si pengemplang pajak” dalam versi yang baru, Robert Tantular “Pengusaha Licin” dengan wujud yang berbeda, Anggodo “si tua nakal” dengan bentuk kenakalan berbagai variasi atau bahkan lahirnya para penganut agama radikal yang mengguncang negeri ini dengan ledakan-ledakan bom yang sering kita kenal dengan sebutan Teroris. Dan tampaknya kekhawatiran penulis ini mulai terasa bahaya-nya secara laten ataupun real. Memang, penulis hanyalah seorang mahasiswa jurusan PPKn yang tentunya masih jauh pengalamanya secara mendalam untuk berpikir kedepan dan memprediksi suatu hal yang akan terjadi dengan masa depan Bangsa ini. Penulis akui, fenomena yang terjadi saat ini adalah ketika generasi muda bangsa Indonesia mulai bersikap apatis khususnya terhadap eksistensi Pancasila itu sendiri. Secara eksplisit, kegalauan itu mendasarkan pada pernyataan yang dikemukakan oleh Bambang Kesowo (2006), bahwa Pancasila hampir tidak pernah lagi hadir dalam wacana mengenai banyak persoalan mendasar dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. Juga pernyataan Kaelan (2006), bahwa Pancasila hanya tinggal rumusan verbal. Kegalauan sesungguhnya juga dirasakan oleh umumnya warga negara Indonesia yang konsern akan perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia. Sangatlah wajar apabila saat ini banyak ditemukan kenakalan remaja yang tidak terkontrol sehingga justru semakin membuat jurang pemisah yang dalam bagi pemahaman Pancasila dengan perilaku generasi muda.
Pemuda sebagai salah satu piranti kemajuan bangsa Indonesia, tak dapat dipungkiri menjadi sebuah alat (tools) untuk mengukur sejauh mana perkembangan bangsa ini ke depanya (Bakhtiar:2010, http://abr-center.Blogspot.com). Pengisian kemerdekaan merupakan proses dan kegiatan yang dilakukan terus-menerus untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur bangsa sebagaimana yang terkandung dalam Pancasila dan UUD ’45, karenanya tahap perjuangan bangsa dewasa ini dan masa yang akan datang ialah mengisi kemerdekaan melalui pembangunan di segala bidang. Tahapan ini tidak lebih ringan dan tahapan perjuangan mempertahankan dan di dalam era pembangunan inilah semua pihak dituntut sebagai manusia pembangunan yang memiliki semangat dan jiwa pahlawan. Ini adalah tugas dan tanggung jawab kita semua, terutama generasi muda sebagai generasi penerus untuk meneruskan cita-cita pejuang/pahlawan yang telah gugur dan sebagai sumber insani yang potensial bagi pembangunan nasional.

Kehadiran pemuda sangat fungsional, hal ini dapat ditelusuri dari sejarah perjuangan bangsa dalam mencapai kemerdekaan saat para pemuda itu dengan sendirinya berfungsi sebagai katalisator nasionalisme yang reaktif, nasionalisme menjadi berkonotasi menggugat, sedangkan nasionalisme di dalam kemerdekaan ini berkonotasi pembangunan. Pemuda sebagai generasi penerus, sumber insani bagi pembangunan nasional, calon pemimpin, merupakan sumber daya yang perlu mempersiapkan diri dalam menghadapi persoalan-persoalan yang besar Masalah generasi muda adalah masalah pertanggungjawaban moral suatu bangsa untuk menjamin kelestarian dan kesinambungan hidup suatu bangsa , karena perkembangan dan keberhasilan bangsa terletak pada generasi mudanya (Badan Infokom Sumatra Utara:2007). Dalam waktu itu generasi muda mempunyai banyak tantangan dan godaan sehingga apabila tidak dikendalikan dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan. Keberhasilan pembinaan generasi muda adalah merupakan jaminan kelangsungan bangsa.
Mustafa Rejai dalam bukunya Political Ideologies, menyatakan bahwa ideologi itu tidak pernah mati. Yang terjadi adalah emergence (kemunculan), decline (kemunduran), dan resurgence of ideologies (kebangkitan kembali suatu ideologi). Tampaknya, sejak awal reformasi hingga saat ini sedang terjadi declining (kemunduran) pamor ideologi Pancasila, seiring dengan meningkatnya liberalisasi dan demokratisasi. Siswono Yudo Husodo (2006) menyatakan bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa memang harus disadari belum diterima oleh semua pihak. Di dalam negeri, masih ada tokoh-tokoh yang ingin merubah Pancasila sebagai dasar negara yang tercantum dalam pembukan UUD 1945. Sebagian dunia juga nampak belum yakin pada kelangsungan dan kemajuan sebuah negara bangsa bemama Indonesia. Pancasila perlu disosiailisasikan agar dipahami oleh dunia sebagai landasan filosofis bangsa indonesia dalam mempertahankan eksistensi dan mengembangkan dirinya menjadi bangsa yang sejahtera dan modern.

B. Gaulnya Pancasila dalam Menghadapi Globalisasi
Letak geografis dan kekayaan alam negara kita amatlah memikat untuk dikuasai bangsa-bangsa lain, secara langsung melalui penjajahan seperti dimasa lalu, maupun secara tidak langsung di era modern ini. Banyak yang terkejut atas pengakuan John Perkins dalam bukunya Confessions of an Economic Hit Man, yang mengakui perannya sebagai agen perusak ekonomi yang juga beroperasi di Indonesia, untuk menjadikan perekonomiannya tergantung dan dikuasai asing. Lebih mengejutkan lagi karena dikatakannya, ada konspirasi yang melibatkan lembaga-lembaga internasional yang selama ini kita percayai akan membantu kita keluar dari krisis (Siswono:2006). Didunia yang penuh dengan persaingan ini, kita tidak bisa melarang mereka mensiasati kita. Yang harus kita lakukan adalah, membuat diri kita tidak bisa diakali oleh konspirasi asing. Kita perlu memiliki ketahanan nasional yang tangguh, yang mampu menentukan sendiri cara, kontrol, skema, waktu dan jenis keterbukaan kita pada dunia, serta menggunakan setiap peluang berinteraksi dengan dunia sebagai kesempatan untuk memajukan bangsa dan negara kita. Globalisasi telah mengantarkan dunia kearah persaingan antar bangsa dan negara, yang dimensi utamanya terletak pada bidang, ekonomi, budaya dan peradaban. Tinggi rendahnya harkat, derajat dan martabat suatu bangsa semakin diukur dari tingkat kesejahteraan, budaya dan peradabannya. Saat ini setiap negara bangsa sedang berjuang keras untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi warganya, budaya dan peradabannya. Dan satu-satunya solusi dalam menghadapi globalisasi saat ini yang paling relevan adalah Pancasila.
Melandasi diri dengan Pancasila sebagai security software untuk menatap era globalisasi bukan berarti juga menjadi penulis anti dengan Globalisasi yang terjadi saat ini. Kecenderungan saat ini justru ketika kita terlalu berwawasan sempit untuk mengartikan globalisasi sebagai ancaman kedaulatan negara ini. Padahal apabila kita stand by untuk mengahadapi globalisasi dengan faham yang terkandung dalam Pancasila bukan tidak mungkin Indonesia akan memutar balikkan keadaan dimana justru Indonesia yang memenangkan kompetisi global ini. Penulis ingin mencontohkan bagaimana ketika RRC (Republik Rakyat China) yang konsisten dengan ekonomi sosialisnya telah mendominasi ekonomi barat dengan kualitas produk industri yang mampu bersaing di pasaran internasional, tak terkecuali Indonesia. Begitu juga negara Jepang yang saat ini justru menguasai hampir seluruh produksi Mobil Komersil di Amerika Serikat dengan TOYOTA-nya yang sangat terkenal itu mengalahkan merek-merek dalam negeri Amerika Serikat.
Pancasila pasca Reformasi sering diinterpretasikan sebagai mantra yang sakral, tentu hal ini merupakan bagian dari side effect atas pengkeramatan Pancasila di masa Orde Baru. Sikap apatis generasi muda saat ini, menurut penulis sebagai dampak dari sistem dan cara memandang Pancasila sebagai sebuah pandangan hidup cenderung diarahkan pada hal-hal yang keramat dan sangat sulit dimengerti. Penulis menganggap dengan memberikan pemaparan tentang Pancasila sebagai ideologi yang sangat sulit dimengerti dan rumit dalam pemahaman di kehidupan sehari-hari justru membuat generasi muda saat ini enggan untuk mendekatkan diri dengan sebuah pandangan hidup yang bernama Pancasila ini. Seharusnya, bentuk-bentuk anggapan bahwa Pancasila yang dikaji secara rumit dan berbelit-belit dapat disederhanakan sehingga generasi muda saat ini dapat dengan simple memahami dan melaksanakan secara praktis ideologi Pancasila tersebut.
Pada era globalisasi saat ini, masyarakat Indonesia harus diakui mulai mengukur segala sesuatunya hanya berdasarkan pada prinsip-prinsip material saja bukan berdasarkan aspek-aspek idealisme yang sesungguhnya lebih berarti esensial. Kenyataanya saat ini Seorang gadis tentu akan lebih tertarik berpacaran dengan pria yang mengendarai mobil Sedan Sport dengan menggenggam Blackberry di tanganya ketimbang dengan seorang aktifis pejuang idealisme yang hanya mengendarai sepeda motor tua. Atau Contoh yang paling dekat adalah, bagaimana ketika orang tua cenderung akan bangga memiliki seorang anak yang kuliah di Fakultas Kedokteran daripada kuliah di Fakultas Ilmu Sosial meskipun dengan bekal idelalisme di benaknya. Kecenderunganya saat ini masyarakat mengukur keberhasilan seseorang apabila telah memiliki rumah mewah bertingkat, mobil yang limited edition, atau bahkan memberikan sumbangan materil dengan nominal yang sangat besar kepada desanya meskipun hasil dari korupsi. Kecenderungan inilah yang kemudian mencuat di permukaan bahwa Pancasila hanya sebagai hiasan bibir belaka, bukan aplikasi langsung di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam situasi global yang memang mengharuskan bangsa ini untuk larut dalam persaingan internasional dibutuhkan kekuatan dari seluruh elemen generasi muda untuk tidak sekedar mendefinisikan Pancasila dengan lantang, tapi bagaimana menerapkan Pancasila sebagi ideologi Gaul sehari-hari.
Sebagai ideologi nasional, Pancasila perlu diperuangkan untuk diterima kebenarannya melewati batas-batas negara bangsa kita sendiri. Bentuk perjuangan ideoiogi pada saat ini tentulah berbeda dengan zaman berbenturannya nasionalisme dengan imperialisme, sosialisme dengan kapitalisme, dan antara demokrasi dengan totaliterianisme. Keberhasilian Pancasila sebagai suatu ideologi, akan diukur dari terwujudnya kemajuan yang pesat, kesejahteraan yang tinggi dan persatuan yang mantap dari seluruh rakyat Indonesia. Kedepan, bangsa kita perlu berani menjadi seperti bangsa Amerika Serikat yang ingin menyebarkan ideologi demokrasi ke seluruh penjuru dunia. Bangsa Amerika Serikat mampu melakukan itu hari ini, karena ideologi nasionalnya, demokrasi yang berintikan liberty (kebebasan), fraternity (persaudaraan), dan egality (kesetaraan), telah berhasil menempatkan Amerika Serikat sebagai negara bangsa terkemuka di dunia. Keberhasilan Amerika Serikat diberbagai bidang kehidupan bukan saja telah melegitimasikan posisinya sebagai negara yang dirujuk dan dihormati, tetapi juga menempatkannya sebagai sumber inspirasi serta teladan banyak bangsa.
Hanya dengan mencapai kondisi bangsa yang maju, sejahtera dan bersatu sajalah Indonesia dapat menjadi salah satu rujukan dunia. Saat itulah Pancasila berpotensi untuk diterima oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Namun, kecenderungan saat ini adalah Pendidikan Pancasila yang menjadi pondasi kemajuan dan eksistensi bangsa Indonesia secara laten kurang mendapat respon dan apresiasi positif justru dari elemen bangsa Indonesia ini sendiri. Angka 24% hasil dari penelitian Pusat Studi Pancasila (PSP) Universitas Gadjah Mada setidaknya telah memberi gambaran bahwa kondisi kritis bangsa ini terhadap pandangan hidup dan dasar kenegaraan. Sebuah realita memang sering tidak sesuai dengan harapan, dan hal inilah yang menjadi motivasi khususnya bagi kita semua untuk lebih memaknai Pancasila sebagai Ideologi yang Modern (Gaul untuk dipahami oleh generasi muda saat ini).
Kecenderungan saat ini adalah terlalu banyak pakar atau ahli keilmuwan di Indonesia yang sangat anti dengan Globalisasi namun tidak memberi solusi. Penulis yang dalam hal ini memposisikan diri sebagai kalangan generasi muda tentu harus ‘melek’ untuk merasakan fenomena tersebut. Penulis berpendapat, masalah yang substansial jika mengaitkan dua variabel antara Pancasila dan Globalisasi adalah konsistensi kita pada pandangan hidup dan dasar negara ini. Bercermin dengan ideologi asing bukan berarti mengadopsi ideologinya, tapi mengadopsi implementasi sistematika konsep untuk menerapkan ideologi tersebut. Karena saya sangat berkeyakinan bahwa Republik ini tidak mungkin menjadi negara Super Power seperti Amerika jika apabila menggunakan Liberalisme sebagai Ideologi kenegaraan, atau menjadi Negara maju seperti China apabila menggunakan Sosialisme sebagai pandangan hidup bangsa. Namun, bangsa ini akan jauh lebih dahsyat dari Amerika Serikat dan lebih mantap dari Republik China apabila seluruh elemen bangsa ini tetap mejaga Konsistensi dan kesinambungan untuk tetap berpedoman pada Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara adalah satu-satunya solusi yang paling mutakhir untuk memberikan kekuatan dalam menghadapi persaingan global seperti saat ini. Konsisten untuk berpegangan erat pada Pancasila dalam menghadapi tantangan global bukanlah suatu hal yang mudah. Dibutuhkan keyakinan dan kredibilitas semua stake holder elemen bangsa ini untuk tidak hanya sekedar mengetahui, menghafal dan memahami Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara, tapi lebih dari itu bagaimana melaksanakan langsung Pancasila sebagai pandangan hidup di era tanpa batas ini. Konsisten yang penulis maksudkan bukan berarti kita menutup diri atau alergi dengan ideologi barat atau terlalu terbuka dengan ideologi ketimuran. Tapi bagaimana sebisa mungkin memposisikan diri kita untuk bisa menyesuaikan dengan kedua faham tersebut dengan memprioritaskan kekuatan fungsional budaya dan kearifan lokal khas Indonesia.
Mengutip pernyataan sosiolog Talcott Parsons dalam bukunya Social System, menyatakan kalau suatu masyarakat lngin tetap eksis, ada empat paradigma fungsi (function paradigm) yang harus terus-menerus dilaksanakan cleh masyarakat yang bersangkutan.
Pertama, pattern maintenance. Kemampuan memelihara sistem nilai budaya yang dianut, karena budaya adalah endapan dari perilaku manusia. Budaya masyarakat itu sendiri akan berubah karena terjadi transformasi nilai dan masyarakat terdahulu ke masyarakat kemudian, tetapi dengan tetap memelihara nilal-nilal yang dianggapnya luhur, karena tanpa hal itu akan terbentuk masyarakat baru yang lain.
Kedua, kemampuan masyarakat beradaptasi dengan dunia yang berubah dengan cepat. Sejarah membuktikan, banyak peradaban masyarakat yang telah hilang, karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan dunia. Masyarakat yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan serta memanfaatkan peluang yang timbul akan unggul.
Ketiga, adanya fungsi integrasi dari unsur-unsur masyarakat yang beraneka ragam secara terus menerus sehingga terbentuk kekuatan sentripetal yang semakin menyatukan masyarakat tersebut. Setiap masyarakat bangsa, lebih-lebih yang sangat heterogen seperti Indonesia, selalu memiliki potensi munculnya entropi bangsa, yaitu unsur-unsur dalam negara yang oleh dinamika internalnya berkembang destruktif, menghancurkan negaranya sendiri, seperti sel-sel yang membentuk tubuh kita, yang dapat berubah menjadi sel kanker yang dapat membinasakan tubuhnya sendiri. Berkembangnya secara ekstrim dan sempit etnosentrisme, primordialisme dan fanatisme golongan, merosotnya pluralisme dan toleransi serta merosotnya kemampuan masyarakat untuk menyelesaikan berbagai friksi secara santun adalah bentuk-bentuk entropi bangsa, yang dapat mencerai beraikan bangsa yang hetercgen ini. Kaum Pancasilaislah yang harus mencegah muncuinya entropi didalam tubuh bangsa kita.
Keempat, masyarakat periu memiliki goal attainment atau tujuan bersama yang dari masa ke masa bertransformasi karena terus-menerus diperbaiki cleh dinamika masyarakatnya dan oleh para pemimpinnya. Dengan pemahaman itu, kalau semangat kebangsaan Indonesia lahir lebih diwarnai oleh kesamaan sejarah masa lalu kita, maka kedepan semangat kebangsaan itu harus dipupuk oleh kesamaan cita-cita tentang Negara bangsa yang ingin kita tuju. Dalam perspektif negara bangsa, empat function paradigm Parson yang harus terus-menerus dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia agar dapat hidup dan berkembang, kerangka sistemiknya termanifestasikan dan terkristalisasi dalam Pancasila.
Melalui media makalah ini juga penulis bermaksud untuk mengajak seluruh pembaca untuk mulai membuka mata kita masing-masing dan mulai merasakan betapa pentingnya konsep Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai manifesto persaingan global. Mampu secara real melakukan persaingan dengan independensi sebagai Negara Pancasila, tidak serta merta pesimistis akan fenomena global dan dengan konyol terlalu larut di bawah kendali Negara super power. Dan penulis memiliki konsep berpikir bahwa kemandirian dalam persaingan global salah satu kunci utamanya adalah kemandirian bangsa itu sendiri.

C. Pancasila, “Software” Permanen Generasi Muda Indonesia
Penulis sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Goenawan Mohamad dalam peluncuran politikana.com di Gedung Teater Komunitas Salihara Jakarta, April 2009 lalu. Ada beberapa trouble error di era orde baru yang menyebabkan Pancasila di era saat ini seperti “hilang dari peredaran”. Ada tiga kesalahan besar ‘Orde Baru’ dalam memandang kelima ‘prinsip’ itu. Yang pertama adalah membuat Pancasila hampir keramat. Yang kedua, membuat Pancasila bagian dari bahasa, bahkan simbol eksklusif, si berkuasa. Yang ketiga, mendukung Pancasila dengan ancaman kekerasan. Kini kita membutuhkan Pancasila kembali, tapi tak seperti Rama menerima Sita pulang: kita tak perlu mempersoalkan ‘kesucian’, apalagi ‘kesaktian’-nya. Kini kita membutuhkan Pancasila kembali karena ia merupakan rumusan yang ringkas dari ikhtiar bangsa kita yang sedang meniti buih untuk dengan selamat mencapai persatuan dalam perbedaan. Pidato Bung Karno dengan ekspresif
mencerminkan ikhtiar itu; nadanya mengharukan: penuh semangat tapi juga tak bebas dari rasa cemas. Dengan kata lain, kita membutuhkan Pancasila kembali untuk mengukuhkan, bahwa kita mau tak mau perlu hidup dengan sebuah pandangan dan sikap yang manusiawi yang mengakui peliknya hidup bermasyarakat.
Penulis juga berfikir bahwa Pancasila justru akan sangat berkesan dan melekat pada setiap elemen masyarakat muda saat ini, justru jika Pancasila kehilangan sifat saktinya. Karena apabila di zaman global seperti saat ini, Pancasila masih dianggap sebagai sebuah “kesaktian” maka yang terjadi adalah Pancasila akan kembali lagi seperti pada era orde baru dulu. Menjadi sebuah mantra yang masyarakat akan segan untuk melakukan improvisasi sesuai dengan kebudayaan dan kepercayaanya masing-masing. Kita semua tentu merasakan banyak kalangan agamais radikal yang memiliki kehendak untuk mengubah dasar Negara Pancasila menjadi ideologi suatu agama. Mereka beralasan karena ideologi agama berasal dari Tuhan sedangkan Pancasila hanya berasal dari pola pikir manusia. Namun, demikian penulis tegaskan bahwa justru karena Pancasila adalah bagian dari ikhtiar manusialah, ia tak mengklaim dirinya suci dan sakti. Dengan demikian ia adalah ‘inspirasi’ untuk sebuah kehidupan bersama yang mengakui dirinya mengandung ‘kurang’, karena senantiasa bergulat antara ‘eka’ dan ‘bhineka’. Sebab itu tepat sekali ketika Bung Karno menggunakan kiasan ‘menggali’ dalam merumuskan Pancasila. ‘Menggali’ melibatkan bumi dan tubuh; Pancasila lahir dari jerih payah sejarah, dan seperti halnya hasil bumi menawarkan sesuatu yang tetap bisa diolah lebih lanjut. Pancasila juga demikian, menjadi sangat mulia apabila kita sebagai generasi muda, generasi yang kelak akan melanjutkan masa depan bangsa ini secara kreatif, arif dan bijaksana melakukan rekonsiliasi dan modifikasi penafsiran untuk lebih mengadaptasi dengan kehidupan masing-masing agama dan kepercayaan sehingga terjalin satu kesatuan berbagai elemen bangsa Indonesia ini.
Pancasila menurut penulis bukanlah ideology yang ‘ready-for-use’. Ia tak menampik tafsir yang kreatif. Ia membuka kemungkinan untuk tak jadi doktrin, sebab tiap doktrin akan digugat perkembangan sejarah dan sebab itu Bung Karno mengakui: tak ada teori revolusi yang ‘ready-foruse’. Yang juga tampak dalam keterbukaan untuk kreatifitas itu adalah sifatnya yang tak bisa mutlak. Tiap ‘sila’ mau tak mau harus diimbangi oleh ‘sila’ yang lain: bangsa ini tak akan bisa hanya menjalankan ‘sila’ keberagamaan (‘Ketuhanan Yang Maha Esa’) tanpa juga diimbangi ‘sila’ kesatuan bangsa (‘kebangsaan Indonesia’), dan sebaliknya. Kita juga tak akan patut dan tak akan bisa bila kita ingin menerapkan ‘sila’ nasionalisme tanpa diimbangi perikemanusiaan, dan begitulah seterusnya. Memutlakkan satu ‘sila’ saja akan melahirkan kesewenangwenangan. Juga tak akan berhasil. Hidup begitu pelik. Masyarakat selalu merupakan bangunan dalam proses, hingga politik, dengan segala cacatanya, merupakan hal yang tak bisa dielakkan bahkan tak bisa dihabisi oleh 100 tahun kekerasan.
Indonesia adalah Negara yang dihuni oleh bermacam-macam suku, agama, dan kepercayaan. Ketika keberagaman itu dengan sangat mudahnya disederhanakan maka kita sendiri yang akan menghitung waktu kapan ledakan konflik itu akan terjadi. Keberagaman ini adalah kekayaan yang bahkan Negara Amerika-pun tak sekaya kita dalam hal budaya bangsanya. Memang, Amerika juga dihuni oleh banyak bangsa seperti china, india, aborigin, negro, dan suku bangsa lainya. Tapi keberagaman bangsa di Amerika jauh berbeda dengan keberagaman suku di Indonesia. Di Amerika orang dari bangsa Negro tentu akan lebih menjunjung bangsa aslinya yang justru berada di tanah Afrika. Berbeda dengan suku di Indonesia, orang Jawa pasti akan tetap menjunjung tanah Jawa yang tentu bagian dari Indonesia. Orang Bali tetap akan menjunjung tanah Bali yang sudah tentu bagian dari Indonesia. Orang sasak tetap akan menjunjung tanah Lombok yang juga bagian dari Indonesia. Dan kekayaan keberagaman inilah yang penulis maksudkan sebagai kekayaan yang “sistemik”. Kekayaan akan keberagaman budaya bangsa yang sangat multidimensional. Berbagai macam suku, agama, ras dan adat istiadat bergabung menjadi satu dengan sebutan Indonesia. Perpecahan dari setiap elemen tersebut hanya akan memberi kehancuran dan kesemrawutan bagi Indonesia. Sebagai contoh, sayur kangkung, kecambah, kacang panjang, tahu, tempe akan terasa kurang nikmat apabila dimakan hanya pada satu bagian saja. Rasanya akan berbeda jika semua itu digabungkan menjadi satu seperti gado-gado, tentu rasanya lebih sedap. Begitu juga dengan suku bangsa Indonesia, akan lebih mantap apabila kesemua suku bangsa tersebut dgabungkan menjadi satu-kesatuan yang utuh. Orang Batak pasti akan tertarik ke jawa untuk merasakan uniknya reog ponorogo atau wayang golek, begitu juga orang jawa akan penasaran dating ke Bali untuk menikmati indahnya tarian pendet dan juga Ogoh-ogoh. Sebaliknya, orang Bali akan lebih sembringah jika berwisata ke Sumatra untuk menyaksikan Tari Piring, atau akan teriak kegirangan ketika melihat wayang wong Jogjakarta.
Hal inilah yang penulis yakinkan kepada pembaca semua, bahwa sudah sepatutnya Pancasila kita anggap sebagai software permanen yang menjadi operating system dalam setiap lembar saraf otak kita untuk kemudian melakukan mainset dalam kehidupan kehidupan berbangsa dan bernegara. Software ini akan tetap berjalan secara baik, apabila kita sendiri yang meng-install anti virus bagi otak kita. Virus chauvinisme yang hanya menganggap suku atau agama kita saja yang paling benar. Software ini juga harus selalu sering di up-date, dengan bermacam-macam paradigma kehidupan berbangsa dan bernegara secara konsisten (seminar ini contohnya). Menjadi sebuah idealis saja memang, tapi setidaknya ketika kita saat ini duduk dan mulai merenung dalam benak kita masing-masing bukan hal yang mustahil software itu akan dengan sendirinya up-grading demi kepentingan dan kemaslahatan bangsa dan Negara Indonesia tercinta. Sudah saatnya, mulai detik ini kita semua pulang membawa pencerahan pemikiran baru untuk lebih menghargai dan memndang Pancasila sebagai Ideologi untuk kita Gaul dalam menghadapi era globalisasi saat ini.

“Life is not again to Perfect, but again to Improving” (Hidup bukanlah untuk sebuah kesempurnaan, tapi melakukan pengembangan bagi diri kita).

REFERENSI

Asvi Warman Adam, “Betul, Soekarno Penggali Pancasila”, Kompas, 1 Juni 2004
Ballestrem, Karl G., “Totalitarian Systems Invite Inefficiency and Corruption”, The Jakarta Post, October 7, 1991
Bourchier, David, The Lineages of Organistic Thought in Indonesia, Phd Thesis, Monash University, Melbourne, 1996
Budiarto Danujaya, “Reinventing Ideology”, Kompas, 23 Juni 2004
Eka Darmaputra, Pancasila Identitas dan Modernitas: Tinjauan Etis dan Budaya, PT BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1997
Foot, Rosemary, “The Study of China’s International Behaviors: International Relations Approaches”, in Woods, Ngaire (ed.), Explaining International Relations since 1945, Oxford University Press, Oxford, 1996, pp. 259-279
Fukuyama, Francis, “The End of History?”, The National Interest, 16, Summer, 1989, pp. 3-18 Geertz, Clifford, The Interpretation of Culture: Selected Essays, Basic Books, New York, 1973
Gauthier, David, “The Social Contract as Ideology”, in Contemporery Political
Philosophy: An Anthology, Robert E. Goodin and Phillip Pettit (eds), Blackwell, Oxford, 1997, pp. 27-44 Hook, Sidney, ‘Ideologi’, dalam Percakapan dengan Sidney Hook Tentang 4 asalah
Jim Supangkat, “Kebudayaan, Modernitas dan Politik Identitas“, Kompas 7 Novemper 2004, p. 17
Jankowski, Michael C., “Universalism as the Quest for Synthesis and Two Limitations Indicated by The Political Liberalism of John Rawls”, Dialogue and Universalism, No. 3-4, 2003, pp. 167-170
Koentowijoyo, “Objektivikasi, Agenda Reformasi Ideologi“, Kompas, 13 Juli 1999
Koentowijoyo, “Radikalisasi Pancasila “, Kompas, 20 Februari 2004
Koentowijoyo, “Objektivikasi, Memotong Mata Rantai Dikotomi“, Kompas, 04 Maret 2004
Kymlicka, Will, Contemporary Political Philosophy, An Introduction, Clarendon Press, Oxford, 1990
Kaelan. (2002). Filsafat Pancasila . Yogyakarta : Paradigma
Kalidjernih, FK. (2005). “Postcolonial Citizenship Education: A Critical Analyisis of the Production and Reproduction of the Indonesian Civic Ideal”. Thesis. University of Tasmania
Levine, Steven I, “Perception and Ideology in Chinese Foreign Policy”, in Chinese
Foreign Policy: Theory and Practice, Thomas W. Robinson and David Shambaugh
(eds), Clarendon Press, Oxford, 1998, pp. 30-46
Yudhoyono, Susilo Bambang. “Menata Ke mbali Kera ngka Kehidupan Bernegara Berdasarkan Pancasila” dalam Irfan Nasution dan Ronny Agustinus (Peny). (2006). Restorasi Pancasila : Mendamaikan Politik Identitas dan Modernitas . Jaka rta : FISIP UI
DR (He). Ir.Siswono Yudo Husodo, "Revitalisasi Pancasila dan Kemandirian Bangsa". Orasi Ilmiah Disampaikan Pada Acara Kongres Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional lndonesia 24 Maret 2006

*Sampaikan Kritik dan Saran anda untuk mengembangkan gagasan saya,
:

http://abr-center.blogspot.com

dan Join di Facebook HMJ PPKn: CIVICS GENERATION UNDIKSHA

1 komentar:

  1. perlu didefinisikan secara jelas agar bisa diterima kalangan "TUA"

    BalasHapus

Sampaikan Kritik dan Saran Anda untuk Penyempurnaan Gagasan saya.

Like ABR CENTER - For Indonesian Future

Sahabat ABR Center

Komentar Untuk ABR